Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menyelenggarakan MORNING #9 (Monthly Learning) dengan tema “Dari Data ke Penemuan: Meningkatkan Layanan Penelitian Perpustakaan dengan Metadata”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 14 Agustus 2026 dengan pemateri Faizhal Arif Santosa (Pustakawan Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia) yang sedang menempuh pendidikan MSc Student in Data Science at University of Sheffield, UK.
Acara dibuka oleh Nurul Alifah Rahmawati, Pustakawan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, selaku pembawa acara sekaligus moderator. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars FPPTI, kemudian sambutan dari Ketua FPPTI DIY, Risty Prasetyawati. “Pemahaman terhadap metadata diharapkan dapat membuka peluang bagi perpustakaan untuk tidak hanya menyediakan akses terhadap informasi, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan keterhubungan, penemuan, dan pemanfaatan luaran penelitian.” tegas Risty dalam sambutannya. Kegiatan rutin ini menjadi ruang belajar dan berbagi pengetahuan bagi para pengelola perpustakaan perguruan tinggi, khususnya dalam merespons perkembangan ekosistem informasi dan penelitian.

Pada MORNING 9 kali ini, peserta diajak memahami bagaimana metadata dapat menjadi bagian penting dalam mendukung komunikasi ilmiah serta meningkatkan keterhubungan dan pemanfaatan informasi penelitian. Materi awal yang disampaikan yakni mengenai metadata penelitian dan alasan metadata menjadi penting dalam komunikasi ilmiah. Metadata tidak hanya berfungsi sebagai informasi pelengkap suatu objek penelitian, tetapi juga menjadi bagian dari infrastruktur yang memungkinkan berbagai luaran penelitian ditemukan, dipahami, dan dimanfaatkan secara lebih efektif.

Materi tersebut memperkenalkan CCC Framework, yang terdiri atas tiga komponen utama yaitu Create, Connect, dan Curate. Ketiganya menggambarkan tahapan penting dalam pengelolaan metadata penelitian, mulai dari penciptaan metadata hingga pemeliharaan kualitasnya. Pada tahap Create, fokus diberikan pada pembuatan metadata yang lengkap dan konsisten serta sesuai dengan standar yang berlaku untuk setiap objek penelitian. Metadata yang baik sejak awal menjadi fondasi penting agar informasi penelitian dapat dikelola dan ditemukan dengan lebih baik. Selanjutnya, tahap Connect menekankan pentingnya membangun hubungan antar-entitas penelitian melalui pengenal persisten dan metadata relasional. Dengan pendekatan ini, berbagai luaran penelitian seperti publikasi, dataset, perangkat lunak, protokol, pendanaan, dan luaran penelitian lainnya dapat membentuk jaringan informasi yang saling terhubung.
Sementara itu, Curate berfokus pada pemeliharaan kualitas metadata melalui proses pembaruan, sinkronisasi, rekonsiliasi, dan evaluasi metadata yang telah didistribusikan ke berbagai sistem. Tahap ini menunjukkan bahwa pengelolaan metadata bukan pekerjaan sekali jadi, melainkan membutuhkan pemeliharaan secara berkelanjutan. Pemateri juga membahas contoh tahapan kerja dan keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung layanan penelitian, mulai dari pustakawan, dosen, mahasiswa, kepala atau pimpinan perguruan tinggi, unit kerja, hingga penyedia jasa. Kolaborasi antar-pihak menjadi salah satu unsur penting agar pengelolaan metadata dan layanan penelitian dapat berjalan secara optimal.

Pada sesi penutup, peserta diajak melihat sejumlah tantangan dalam pengelolaan metadata penelitian. Salah satunya adalah bahwa kompetensi tersebut tidak selalu diperoleh melalui pendidikan formal seperti di bangku kuliah, namun perlu keterlibatan langsung dalam penelitian dan proses belajar secara bersama-sama. Melalui MORNING #9, FPPTI DIY terus mendorong pengembangan kompetensi pustakawan dan pengelola perpustakaan perguruan tinggi agar semakin siap berperan dalam ekosistem penelitian. (Komisi II Pubdekdok, Ketua FPPTI DIY)
Materi download
Youtube Live


